Selasa, 05 Mei 2009

Peradilan rakyat

Cerpen Putu Wijaya
Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.

"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."

Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.

"Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"
Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?"
"Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung
tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."
Pengacara muda itu tersenyum.
"Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku."

"Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu."

Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.

"Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri."

Pengacara tua itu meringis.
"Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan."
"Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!"
Pengacara tua itu tertawa.
"Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua.
Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf.

"Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan," sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, "jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."

Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.

"Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog."
"Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya."

"Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.

Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.

Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini."

Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.

"Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya."

"Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba.
Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran.
"Bagaimana Anda tahu?"

Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu."

Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.
"Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya."

Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
"Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?"
"Antara lain."
"Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku."
Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.
"Jadi langkahku sudah benar?"
Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.

"Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?"
"Tidak! Sama sekali tidak!"
"Bukan juga karena uang?!"
"Bukan!"
"Lalu karena apa?"
Pengacara muda itu tersenyum.
"Karena aku akan membelanya."
"Supaya dia menang?"

"Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku."
Pengacara tua termenung.
"Apa jawabanku salah?"
Orang tua itu menggeleng.

"Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang."

"Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan."

"Tapi kamu akan menang."
"Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang."

"Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini."

Pengacara muda itu tertawa kecil.
"Itu pujian atau peringatan?"
"Pujian."
"Asal Anda jujur saja."
"Aku jujur."
"Betul?"
"Betul!"

Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi.
"Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?"

"Bukan! Kenapa mesti takut?!"
"Mereka tidak mengancam kamu?"
"Mengacam bagaimana?"
"Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?"

"Tidak."
Pengacara tua itu terkejut.
"Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?"
"Tidak."
"Wah! Itu tidak profesional!"
Pengacara muda itu tertawa.
"Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!"
"Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?"
Pengacara muda itu terdiam.
"Bagaimana kalau dia sampai menang?"
"Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!"
"Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?"
Pengacara muda itu tak menjawab.
"Berarti ya!"
"Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!"

Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.

"Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok."
"Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut."

"Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?"

"Betul."
"Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.

Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional."

Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan.
"Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia."

Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.

"Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional."
"Tapi..."

Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.
"Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam."

Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.

"Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai."

Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.

Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.

"Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?" ***

Kamis, 11 Desember 2008

puisi sahabat

Tak mengenal ras dan bahasa
Jangan pandang ia dari warna
Papa dan kaya bukan bencana
Susah dan senang lalui cerita

Terdiam kita dalam kesunyian
Merenung ia tak kunjung datang
Menangisi kenangan mati dijalan
Seribu keceriaan tak terlupakan

Jagalah kesucian dari sang hitam
Lebih dan kurang jadi bimbingan
Menutupi fitnah jangan berjalan
Jauhkan beban dari sang kelam

Mengapa kita mengotorinya
padahal suci didepan mata
Mengapa hati mesti dikhianati
Bila sang raja benar mengarahi

''seribu langit seperti awan"

Angin malam bertiup lirih ketika menyambut kedatangan Bani di rumah Tania. Mereka duduk berduaan di depan serambi rumah seraya menikmati nuansa malam yang cukup indah namun menjemukan. Bagaima tidak? Bani hanya membisu tak ada sepatah katapun keluar dari mulut Bani.
“kemana aja sih kamu beberapa hari ini Ban?”, ceplos Tania.
Namun Bani seolah mendengar suara Tania sebagai bunyi radio yang asyik untuk dinikmati dengan kebisuan. Tania menjadi kesal menaggapi sikap tak acuh Bani. Dengan wajah cemberut Tania menatap munculnya ratu malam diantara gumpalan awan putih. Seminggu sebelum Bani menghilang dia rasa semuanya baik-baik saja. Tapi tidak untuk malam itu. Bani bersikap dingin dan beku. Bahkan kebiasaan Bani sebagai langganan tetap bakso mang Somad tak didapati Tania. Mang somadpun di biarkannya berlalu begitu saja.
Tania menatap lekat-lekat Bani. Aneh jika Bani berubah sikap seratus delapan puluh derajat. Bani sahabatnya yang kiyut abis yang selau melemparkan senyum mautnya kali ini menyembunyikan sejuta pesonanya.
“Ban kamu percaya aku kan? Kalau kamu memang lagi ada masalah cerita ke aku. Apa ini tentang keluargamu?”, Tanya Tania berusaha menebak. Bani tak menjawab. Dia hanya mendesah panjang diantara keterdiamannya.
“Ban kalau ini soal keluargamu, aku..”
“ini bukan tentang keluargaku”, potong Bani spontan.
“lalu..” Tanya Tania penasaran. Bani kembali terdiam tak berkomentar apa-apa.
“ban aku pengen kamu jelasin ke aku ada apa sebenarnya, jangan kamu Cuma diam tanpa ngasih tahu apa-apa ke aku” protes Tania dengan nada tinggi.
“aku putus dengan Hera, tahu kenapa? Dia malu jalan sama aku ketika tahu tentang keluargaku. Yang lebih parahnya baru dua hari kami putus dia sudah punya pacar baru. Murahan..!”
“jadi secara tidak langsung ini karena soal keluargamu?” Tanya Tania hati-hati.
Mendengar pertanyaan Tania spontan Bani menatap lekat-lekat Tania dan sebentar kemudian tatapan itu berubah jadi kesinisan.
“bukan keluargaku yang patut disalahkan tapi akulah yang harusnya disalahkan. Aku tidak bercermin dulu sebelum bercinta. Yah…beginilah jadinya. Aku terluka dan aku tidak tahu lagi masihkah ada orang yang benar-benar sayang aku”
“kenapa tidak, akulah orang itu. Aku akan selalu setia menemanimu dan akan menjadi orang yang selalu ada bila kamu butuhkan”
“dulu…dulu banget Hera juga bilang seperti itu. Tapi apa nyatanya? Dia meninggalkanku. Aku tidak ingin membuatmu seperti Hera, yang bertebal muka hanya untuk menahan malu karena aku.” Papar Bani yang semenit kemudian beranjak meninggalkan Tania.
“Ban kamu salah. Aku bukan seperti itu, aku sama sekali tidak malu untuk bersahabat denganmu.” Jelas Tania berteriak, namun bani seolah tak mendengar kalimat-kalimat yang diucapkan Tania.
Bani dengan cuek menancap gas motornya meninggalkan arena rumah Tania.
Pelan namun pasti ada yang turun lembut membelai pipi Tania. Ucapan Bani tentang semua itu membuat batin Tania tersayat. Betapa dari dulu Tania selalu sayang Bani bahkan dalam dua setengah tahun persahabatannya menumbuhkan rasa cinta yang harus terpaksa Tania simpan dalam-dalam. Tania benar-benar terpesona dengan Bani yang bersikap tenang dan supel walaupun sebenarnya Bani menyimpan luka dan perih yang mendalam. Lima tahun yang lalu papa dan mamamya resmi bercerai. Dina adiknya ikut mamanya sedangkan bani sendiri ikut papanya. Sakit hati Bani tidak hanya sampai pada keretakan ikatan antara papa dan mamanya, tapi ketika dia tahu kabar santer di luar sana. Papanya sedang menjalin kasih dengan seorang penyanyi dangdut yang bertitle telah bersuami. Sedangkan mamanya telah menjadi istri simpanan seorang pejabat kaya. Dan yang lebih tragisnya Dina adiknya yang masih duduk di bangku SMU harus menjadi cewek panggilan demi pelampiasan pada figure mamanya.
Tania sakit memikirkan itu semua. Kagum dan salut dia pada Bani yang tetap tegar padahal itu semua terlalu berat untuk ukuran manusia semuda Bani. Nyatanya Bani mampu melaluinya. Dia tidak terjerumus pada miras ataupun narkoba. Sungguh… Tania benar-benar tulus mencintai Bani dan tak pernah sedikitpun terfikirkan bahwa dia malu denga kehidupan Bani.



Langit masih biru dan awanpun masih tetap putih ketika Tania sampai di rumah sakit. Sepanjang koridor rumah sakit tak sedikitpun air mata Tania yang berhenti tertumpah. Dan air mata itu menjadi semakin deras ketika pintu dibukanya lambat, sesosok wajah dengan mata sayu terpejam diantara selang infus dan tabung oksigen. Di jidat mulusnya terpasang perban putih yang melingkar dengan rapihnya. Kecelakaan telah membuat Bani sekarat. Ya..semalam setelah kepulangannya dari rumah Tania motor Bani bertubrukan dengan panter hijau tua. Motor Bani remuk dan syukurlah Tuhan masih menyayanginya dengan membiarkannya tetap bernafas.
Dengan langkah gontai Tania menghampiri Bani. Dia duduk di kursi sisi ranjang Bani. Di tatapnya wajah kusut Bani. Ada keputusasaan di sana. Tania ingin menjadi bagian dari duka itu dengan menjadi sahabatnya. Walaupun kadang dia inguin yang lebih. Menjadi pacar Bani tentunya., tapi itu mustahil. Tania hanya tahu di benak Bani dirinya hanya berpredikat sebagai sahabat.
Kecut Tania memikirkan itu semua. Merasakan cinta yang hanya bertepuk sebelah tangan. Mungkin cuma dengan menjadi seorang sahabat Tania bisa mendapatakan kebahagiaan serta kehangatan cinta meskipun bukan cinta untuk seorang kekasih. Sedang Tania sendiri tidak mempermasalahkan untuk memberikan cinta dan kasih sayang yang tulus untuk Bani. Persahabatan baginya lebih dari segala-galanya.
Tania hanya memandangi wajah kusut Bani dengan mata berkaca, sampai mata Tania terpejam. Dia dengan tulus menemani Bani selama berjam-jam yang terbaring tak sadarkan diri. Dan semalamanpun terlewati Tania bersama Bani. Tania tertidur di sisi ranjang Bani sampai pagi menjelang.
Ada senyum kecil yang menghiasi bibir Bani ketika matanya terbuka. Dilihatnya wajah ayu Tania yang tertidur pulas karena kecapaian. Dan tak jemu-jemunya Bani memperhatikan kecantikan wajah Tania yang tentu secantik hatinya pula. Beruntung Bani memiliki sahabat sebaik Tania yang selalu ada bila dia butuhkan, ya…walaupun kadang dia ingin yang lebih dari sekedar sahabat. Menjadi seseorang yang teramat berarti bagi Tania, yang setia dan selalu bersama selamanya. Tapi Bani selalu malu jika harus mengungkapkan isi hatinya yang jujur. Tania terlalu sempurna untuk dirinya. Ketika batinnya rapuh dan dirinya sekarat Tanialah orang pertama yang benar-benar peduli padanya. Seperti saat itu. Keinginannya untuk melihat keluarganya ketika siuman hanya mimpi belaka. Justru Tanialah orang asing tapi terdekat yang paling peduli padanya bukan orang dekat tapi terasing.
“I love you Tan…” desis Bani lirih.
Bani hanya bisa mengungkap itu semua dalam kesunyian ketika mata dan telinga Tania terlelap.
“aku pernah punya mimpi untuk dapat memilikimu Tan, tapi aku selalu mengandaskannya ketika kuingat siapa aku. Pantaskah aku memilikimu yang terlalu sempurna untuk ukuran cewek. Biarpun kamu tidak akan pernah tahu betapa aku teramat mencintaimu, aku cukup bahagia dengan bersamamu.” Papar Bani lagi.
Mata Tania masih terpejam ketika Bani mengungkapkan kalimat itu. Tak ada yang tahu selain dia, Tuhan dan tembok Rumah sakit tentang rahasia hatinya. Kepribadian Tania yang indah.. sindah birunya langit dan kelembutan hati Tania yang seputih awan membuat Tania begitu special di hatinya. Walaupun dia pernah memiliki Hera, namun kedudukan Tania tak kan pernah tergantikan oleh gadis manapun termasuk juga oleh Hera.